700 Ribu Remaja Lakukan Aborsi
sumber :KBI Gemari
sumber :KBI Gemari
Remaja harus memiliki tujuan hidup. Baik narkoba, dugem (dunia gemerlap) maupun seks bebas mungkin memiliki kenikmatan tersendiri. Tetapi, tanpa tujuan hidup yang benar, remaja akan mudah jatuh dan menjadi generasi tak berharga. Benarkah demikian?
Reaksi remaja saat ditanya seberapa keingintahuan remaja tentang kesehatan reproduksi, secara spontan mereka menjawab tidak tahu. Tetapi ketika diuraikan Sumarjati Arjoso, Kepala BKKBN Pusat usai meresmikan Klinik Alia Jakarta Pusat, ujung-ujungnya terbentuk sebuah pertanyaan: “Bagaimana kalau kita sudah ketergantungan seks bebas? Bagaimana penolakan terbaik kalau pasangan kita meminta lebih?
Pertanyaan senada terlontar begitu saja dari mulut siswa-siswa SMA yang hadir dalam Dialog Interaktif Kesehatan Reproduksi Remaja yang diselenggarakan Klinik Alia berbarengan dengan peresmian Klinik Alia bekerjasama dengan kantor BKKBN Jakarta Pusat.
Riuh rendah dan senyum kemaluan peserta remaja yang mengikuti dialog interaktif bertambah ramai dengan hadirnya Nurul Arifin, aktifis LSM penanggulangan HIV/AIDS. Selain cantik, Nurul pun pandai ‘mengocok’ gelak tawa seluruh peserta yang hadir. Apalagi kalau bukan banyolan seputar hubungan laki-laki dan perempuan.
“Survey membutktikan kalau anak perempuan mengidolakan laki-laki keren hanya 5%, sedang 95%nya adalah laki-laki wibawa. Betul nggak…?” seru Nurul pada siswa-siswa SMA yang memenuhi pelataran Klinik Alia.
Sontak ada senyum ke GR-an dari siswa laki-laki dan canda mereka mengedipkan matanya pada teman perempuan. Nurul pun lalu menambahkan hasil penelitiannya, ”Tapi jangan salah lho..wibawa itu wihh..bawa mobil, wiih..bawa duit, wiihh..bawa kartu kredit.”
Kesegaran pun terpancar dari wajah-wajah remaja yang ingin mendengar seloroh Nurul yang saat itu memang terdengar cukup ‘hot’. Meski begitu, acara yang dipandu Dr Hernoleum Gultom, ini mengandung misi pendidikan cukup bagus. Nara sumber lain yang didatangkan seperti Drs H Adang Ruchiyat, MPD dari praktisi pendidikan dan AKP Santoso Sihombing dari kepolisian Jakarta Pusat pun cukup menggelitik dan merangsang keingintahuan siswa tentang apa yang disampaikan.
Agar memiliki kehidupan positif, ungkap Nurul, remaja harus punya tujuan hidup Baik narkoba maupun seks bebas, semuanya memiliki kenikmatan sendiri, tapi ada tanggung jawab yang harus diambil. Pendidikan kesehatan reproduksi adalah proses bagaimana membuat remaja menjadi cerdas, bukan menggiring remaja pada perilaku seks bebas dan menggunakan hak pilihnya untuk bertanggung jawab dengan pilihannya itu.
“Baik laki-laki maupun perempuan sebenarnya telah menjadi korban. Perempuan korban kontruksi sosial menjadikan ingin cantik melakukan kiat berbagai cara. Lelaki menjadi korban definisi keperkasaan menjadikan obat-obatan sebagai orientasi memperbaiki alat vital laki-laki,” cetus Nurul.
Diakui Sumarjati, tayangan hiburan di televisi, internet maupun media cetak kurang mencerminkan pendidikan budi pekerti yang baik untuk remaja. Bahkan untuk menaikkan rating televisi, berbagai stasiun televisi berlomba memberi sajian menarik dengan istilah mengikuti perkembangan pasar tanpa mempertimbangkan dampak dari tontonan itu pada remaja.
Bagaimana reaksi remaja terhadap masuknya informasi global yang bisa diterima setiap saat, tergantung pada ketahanan diri. Cina, membatasi internet, TV dan memberangus media-media yang menyajikan siaran kurang mendidik bagi remaja. Dengan adanya ketahanan diri ini, dimungkinkan remaja tidak terperangkap hal-hal negatif.
“Bagaimana kalau kita sudah ketergantungan seks bebas?” cetus Mila, siswa SMU 7 Jakarta, menanggapi uraian kepala BKKBN ini.
“Kalau kita sudah ketergantungan, perlu diingat dengan siapa kita melakukannya. Apakah dengan partner kita atau dengan banyak partner seks. Bahaya seks dengan parter itu antara lain HIV/AIDS dan masa depan dia sendiri terancam,” jawab Sumarjati.
Ditambahkan Sumarjati, pacar yang bertanggung jawab tidak akan merusak. Dan cinta yang bertanggung jawab akan menghormati pasangannya. Katakan, “say no to sex before married”. Karena, ketahanan yang tinggi bisa mengendalikan emosi yang tinggi.
Berdasar data yang diperoleh Hernoleum, kasus aborsi per tahunnya ada sekitar 2,4 juta dan 700.000-nya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja. “Ini yang baru terlihat, belum lagi yang melaporkan, karena kasus aborsi seperti gunung es.” So, apakah kita akan tetap diam berpangku tangan saja? RW


Tidak ada komentar:
Posting Komentar